Akulturasi Budaya Madura, Cina Dan Belanda Pada Interior Keraton Sumenep Sebagai Wujud Komunikasi

Akulturasi Budaya Madura, Cina Dan Belanda Pada Interior Keraton Sumenep Sebagai Wujud Komunikasi. -- Proses komunikasi dalam akulturasi budaya, dipengaruhi oleh banyak varibel-variabel komunikasi. Salah satu kerangka konsep yang paling komprehensip dan bermanfaat dalam menganalisa akulturasi seorang imigran dari perspektif komunikasi terdapat pada perspektif sistem yang dielaborasi oleh Ruben (1975).

Dalam perspektif sistem, ada 3 unsur dasar sistem komunikasi manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya melalui dua proses yang saling berhubungan, yaitu komunikasi personal, komunikasi sosial dan lingkungan komunikasi.

Pertama, komunikasi personal, adalah proses mental yang dilakukan manusia untuk mengatur dirinya sendiri dalam dan dengan lingkungan sosial budayanya, mengembangkan cara-cara melihat, mendengar, memahami, dan merespon lingkungan. Dalam kontek akulturasi, komunikasi personal seorang imigran dapat dianggap sebagai pengaturan pengalaman akulturasi ke dalam sejumlah pola respon kognitif dan afektif yang dapat diidentifikasi dan konsisten dengan budaya pribumi.

Salah satu variabel komunikasi personal terpenting dalam akulturasi adalah kompleksitas struktur kognitif imigran dalam hal ini orang-orang Cina dan Belanda dalam mempersepsi lingkungan pribumi (budaya Madura). Variabel lain komunikasi personal adalah citra diri imigran yang berkaitan dengan citra-citra imigran tentang lingkungannya. Aspek motivasi akulturasi seorang imigran terbukti fungsional dalam memudahkan proses akulturasi. Semakin tinggi motivasi dari seorang imigran untuk melakukan penyesuaian dengan budaya setempat, maka semakin cepat pula proses terjadinya akulturasi budaya.

Kedua, komunikasi sosial, berkaitan dengan komunikasi personal ketika dua atau lebih individu berinteraksi, sengaja atau tidak melalui komunikasi sosial individu-individu mengatur perasaan-perasaan, pikiran dan perilaku-perilaku antara yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi antar pesonal seorang imigran dapat diamati melalui derajat partisipasinya dalam hubungan-hubungan antar personal dengan anggota-anggota masyarakat pribumi.

Derajat keintiman dalam hubungan-hubungan individu telah dikembangkan dengan anggota masyarakat pribumi, merupakan salah satu indikator penting tentang kecakapan komunikasi pribumi yang telah diperolehnya. Komunikasi yang melibatkan hubungan antar personal memberi imigran maupun umpan balik yang serempak, yang secara langsung berfungsi sebagai kontrol perilaku-perilaku komunikasi imigran.

Ketiga, lingkungan komunikasi. Komunikasi personal dan komunikasi sosial seorang imigran dan fungsi komunikasi tersebut tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa dihubungkan dengan lingkungan komunikasi masyarakat pribumi. Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi dan akulturasi imigran adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat.

Derajat pengaruh komunitas etnik atas perilaku imigran sangat bergantung pada derajat kelengkapan kelembagaan komunitas tersebut dan kekuatannya untuk memelihara budaya yang khas bagi anggota-anggotanya (Taylor, 1979). Lembaga-lembaga etnik yang ada dapat mengatasi tekanan-tekanan situasi antar budaya dan memudahkan akulturasinya. Pada akhirnya masyarakat pribumilah yang memberikan kebebasan atau keluwesan kepada imigran minoritas untuk menyimpang dari polapola budaya masyarakat pribumi yang dominan dan untuk mengembangkan lembaga-lembaga etnik.

Proses akulturasi adalah suatu proses interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru. Salah satu bentuk adanya komunikasi dalam sebuah akulturasi budaya dapat dilihat pada hasil peninggalan berupa artefak-artefak, baik berupa karya seni rupa maupun arsitektur yang ada di suatu daerah, Keraton Sumenep merupakan salah satu peninggalan bangunan di Madura.

Kraton Sumenep dirancang oleh arsitek Lauw Pia Ngo dari Negeri Cina, dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dengan demikian maka warisan budaya itu tidak luput dari pengaruh budaya Jawa Hindu, Islam, Cina dan Belanda. Kesemuanya itu tampak pada penampilan dan penyelesaian bangunanbangunan tersebut. Pendopo Kraton ternyata memiliki bentuk bangunan Jawa.

Pendopo dengan atap Limasan Sinom dan bubungannya dihiasi dengan bentuk mencuat seperti kepala naga, merupakan pengaruh Cina. Sedangkan bangunan dalem terdapat bentuk gunung (top level) yang telanjang tanpa teritis dan diselesaikan dengan bentuk mirip cerobong asap di puncaknya, merupakan bukti pengaruh Belanda dan Cina. Pada ragam hiasnya juga nampak beberapa pola Jawa, Islam dan Cina yang dipadu cukup menarik. Bentuk arsitektur Kraton Sumenep, menunjukkan wujud adanya akulturasi antara budaya Madura, Cina dan Belanda.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Tentang Penulis
Recent Articles
Sep 20, 2021, 11:53 AM - Nur Alfu Khoiriah
Sep 17, 2021, 2:10 PM - Nani Triastuti