Berbagai Budaya Balapan Sapi / Kerbau Khas Indonesia yang Unik

Berbagai Budaya Balapan Sapi / Kerbau Khas Indonesia yang Unik -- Indonesia memiliki budaya yang cukup unik yaitu budaya balapan sapi/kerbau. Budaya ini telah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu dan masing-masingnya memiliki keunikan tersendiri. Maka tak heran jika budaya ini terkenal hingga mancanegara. Berikut budaya lomba balap sapi/kerbau khas Indonesia yang patut Anda saksikan sebagai referensi liburan:

Karapan Sapi Madura

Balapan sapi yang berasal dari Madura, Jawa Timur, ini dikenal dengan nama Karapan Sapi. Karapan Sapi bukan hanya dipandang masyarakat Madura sebagai pesta rakyat yang menghibur tetapi juga sebuah simbol yang mengangkat harkat dan martabat mereka sebagai penghasil sapi berkualitas tinggi.

Sejarah karapan sapi ini dimulai dari Syeh Ahmad Baidawi yang mengenalkan cara bercocok tanam menggunakan sepasang bambu ditarik dua ekor sapi untuk membajak tanah Madura yang tidak subur. Cara ini ternyata berhasil menyuburkan tanah dan membuat panen berlimpah. Sebagai ungkapan rasa syukur, Syeh mengajak warga untuk mengadakan balapan sapi di sawah yang selesai dipanen.

Para joki dan sapi mereka bertanding dalam karapan sapi madura

Sapi-sapi yang bertanding dalam karapan mendapatkan perlakuan istimewa dari para pemiliknya. Sapi karapan menempati garasi rumah, mendapatkan pijatan khusus dan menikmati makanan spesial 80 butir telur ayam serta jamu khusus tiap hari untuk menjaga stamina. Tidak aneh juga jika pemilik sapi menyewa dukun yang menghalangi jampi-jampi musuh sebelum bertanding.

Jika sapi memenangkan pertandingan, pemilik sapi mendapat banyak keuntungan, yaitu memenangkan hadiah dan taruhan serta harga sapi bisa mencapai 75 juta per ekor. Sapi-sapi ini hanya boleh bertanding 2-3 kali dalam setahun.

Ada 2 macam perayaan Karapan Sapi, yaitu Bupati Cup dan Presiden Cup. Bupati Cup diadakan 2 kali per tahun dan pemenangnya bisa melanjutkan ke Presiden Cup. Finalnya biasanya diadakan dari September sampai awal Oktober.

Sebelum acara dimulai, para pemilik sapi melakukan parade sapi di area karapan dengan iringan alat musik khas Madura, seronen. Rute lintasan karapan yang panjangnya 180-200 meter dapat ditempuh hanya dalam waktu 14-18 detik.

Joki berdiri di atas kereta dari kayu yang ditarik dua ekor sapi. Sapi makin berlari kencang karena joki memukul pantat sapi dengan cambuk berduri tajam dan memasangi pangkal ekor sapi dengan sabuk penuh paku tajam. Sapi akan diberikan waktu beristirahat menyembuhkan luka-lukanya.

Makepung Bali

Kerbau dalam balapan kerbau makepung bali dengan hiasan warna-warni

Di Jembrana, Bali, ada lomba pacu kerbau yang disebut Makepung, artinya berkejar-kejaran. Makepung menjadi atraksi budaya yang diminati turis domestik dan mancanegara sehingga dijadikan agenda tahunan wisata Bali.

Awalnya, petani melakukan bmakepung di sela waktu membajak sawah saat musim panen. Mereka mengaitkan gerobak/cikar ke seekor kerbau. Gerobak itu akan dinaiki seorang joki yang memacu dan mengendalikan kerbau itu untuk saling beradu cepat.

Kini makepung juga diikuti pegawai dan pengusaha dari kota. Sejak tahun 1970-an, aturan dan kelengkapan balapan juga berubah. Kerbau yang dikaitkan ke gerobak menjadi dua ekor dengan hiasan mahkota di kepala. Gerobak memiliki ukuran lebih kecil dan memasang bendera merah atau hijau. Arena pertandingan berbentuk huruf U dengan panjang 1-2 km. Salah satu event terbesar adalah Gubenur Cup yang diikuti sekitar 300 peserta.

Penentuan pemenang makepung juga cukup unik. Peserta dinyatakan menang jika mencapai finish di urutan pertama dan berjarak minimal 10 meter dari peserta di belakangnya. Jika jarak keduanya kurang dari 10 meter maka peserta di urutan kedua itu akan dinyatakan sebagai pemenang.

Pacu Jawi Sumatera Barat

Pacu Jawi atau Pacu Sapi merupakan budaya balapan hewan khas wilayah Tanah Datar dan Lima Puluh Kota, Minang, Sumatera Barat, yang diadakan 3 kali dalam setahun sebagai ucapan syukur di masa panen. Para petani dan masyarakat sekitarnya mengadakan Pacu Jawi untuk mengisi kegiatan setelah panen selesai.  Balapan ini diadakan di area sawah yang basah.

Pacu Jawi ini merupakan budaya yang menghibur dan penuh makna. Pacu Jawi menggunakan dua ekor sapi yang dipacu oleh seorang joki di atas bajak pacu terbuat dari bambu. Hal ini berarti harapan masyarakat dan pemimpin dapat berjalan bersama.

Pemenangnya bukan ditentukan oleh siapa yang berlari lebih cepat tetapi oleh siapa yang bisa berjalan lurus. Hal ini berarti orang yang berjalan lurus memiliki nilai yang tinggi.

Sapi-sapi yang berpacu tanpa lawan ini dimaksudkan menghindari adanya taruhan selama balapan. Joki menggigit ekor sapi agar sapi makin kencang berlari.

Sebelum balapan, para penari dengan lincah membawakan tarian piring khas Minangkabau. Selama balapan berlangsung, iringan musik tradisional Minang terus berkumandang. Penduduk setempat ikut mendapatkan rejeki dengan berjualan makanan khas Minang di sekitar arena balapan. 

Malean Sampi, Lombok, NTB

Malean Sapi merupakan budaya balapan sapi dari daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat, terutama di Kabupaten Lingsar dan Kabupaten Narmada. Malean Sampi berasal dari bahasa Sasak-Lombok yang artinya mengejar sapi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan menyambut panen berikutnya. Selain itu, acara yang telah ada sejak abad ke-18 ini menjadi hiburan dan cara menjaga hubungan baik antar petani/peternak.

Sambil menunggu acara dimulai, para tamu undangan akan menonton acara permainan khas Lombok yang disebut peresean. Acara diawali dengan parade sapi dengan iringan gamelan. Sapi yang mengikuti lomba harus pejantan yang telah keluar tanduk keras dan sudah disuntik (dibante). Sapi itu harus dihias dengan bendera atau umbul-umbul agar menarik perhatian penonton. Bante berguna agar pemilik bisa lebih mudah melatih sapi bertanding.

Seorang joki mengendalikan sapi yang berlari di area sawah berlumpur sepanjang 200 meter. Tidak ada istilah kalah dan menang. Sapi yang mampu berjalan lurus akan menarik perhatian pembeli dan bisa terjual dengan harga 30-35 juta rupiah.

Di akhir acara, semua tamu undangan makan bersama ala Sasak yang disebut begibung untuk menjalin kebersamaan dan kekompakan. Aneka makanan tradisional sederhana disajikan di atas baki tinggi di depan para tamu dan wisatawan.

Balap Munding, Tasikmalaya, Jawa Barat

Balap munding merupakan budaya balap kerbau yang berasal dari penduduk di pantai Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dahulu daerah ini memiliki banyak peternakan kerbau, lalu mereka menggunakan waktu senggang untuk mencari hiburan dengan mengadakan balap kerbau.

Kerbau bertanding dengan iringan musik tradisional di sepanjang pantai Cipatujah. Setelah kerbau selesai bertanding, ada acara kumpul kebo, yaitu berkumpul bersama kerbau dan peternak untuk merasakan sensasi menaiki kerbau dan mencoba bertanding balap kerbau.

Balap munding mulai redup karena kerbau di desa itu makin sedikit. Maklum tugas membajak sawah yang biasa dilakukan kerbau kini digantikan traktor. Pemerintah daerah berhasil menghidupkan kembali budaya unik ini untuk menarik wisatawan.

Nah, demikian budaya balapan unik yang menggunakan sapi atau kerbau khas Indonesia. Masing-masing punya keunikan tersendiri. Semuanya sudah dikelola secara profesional dan dijadikan atraksi budaya di bidang pariwisata.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel terkait
Tentang Penulis