Rini Murtini, 'Perempuan Sampah' dari Panjang Selatan, Bandar Lampung

Rini Murtini, 'Perempuan Sampah' dari Panjang Selatan. -- Jalan selebar dua meter itu terasa seperti belantara di tengah kota. Hijau menyergap di seluruh sisi jalan berpaving itu. Ada kesejukan tersendiri ketika melintas di ruas jalan 300 meter itu. Seperti tak ingin cepat berlalu dari jalan itu.

Ruas jalan di Gang Ikan Kiter I, Jalan Selat Malaka, yang terletak di Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung itu memang terasa kontras jika dibandingkan dengan jalan-jalan lain di kelurahan yang sama.

Hijau tumbuhan dengan lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah. Membuat suasana di Gang Ikan Kiter I, Jalan Selat Malaka terasa sehat. Karenanya, tak salah jika ruas jalan ini disebut sebagai kampung hijau.

Padahal dulu, jalan ini tak berbeda dengan daerah lain di Kecamatan Panjang, daerah pesisir di Kota Bandar Lampung yang terlanjur dikenal sebagai kawasan pelabuhan karena terletak tak jauh dari Pelabuhan Panjang. Pelabuhan bongkar muat kontainer dari berbagai wilayah hingga dari negara lain.

kampung hijauSuasana Kampung Hijau yang terkesan asri. Foto: Dok. Pribadi

Selayaknya kawasan pesisir. Kecamatan Panjang pun demikian, pantai yang seharusnya bisa dijadikan kawasan wisata justru diubah menjadi kotak sampah raksasa oleh warga. Semakin lengkap mana kala kawasan yang juga dikenal sebagai kawasan industri Kota Bandar Lampung itu membuang sisa limbahnya ke perairan pantai. Maka sempurnalah kesan kumuh terhadap daerah itu.

Awalnya, Rini Murtini (50) pun acuh dengan keadaan itu. Sejak lahir ia sudah tinggal disana dan berdampingan dengan sampah.

rini murtini

Rini Murtini. Foto: Dok. Pribadi

'Hidayah' baru datang kepadanya pada pertengahan tahun 2009, saat secara tak sengaja ia mengikuti pertemuan ibu-ibu di kampungnya dengan LSM Mitra Bentala, salah satu LSM lingkungan di Kota Bandar Lampung yang concern terhadap pengelolaan lingkungan. Ia seperti terhenyak, ngeri dengan paparan para pegiat lingkungan tentang sampah yang bisa menjadi bom waktu yang bisa mendatangkan musibah kapan saja.

"Pelan-pelan saya coba mencerna penjelasan dari teman-teman pecinta lingkungan itu. Sebab, selama ini di daerah saya banjir selalu datang tiap kali musim penghujan. Saat banjir, bukan cuma air setinggi satu meter yang masuk ke dalam rumah, tapi juga sampah dan membutuhkan waktu hingga berhari-hari untuk menunggu banjir surut," kenangnya.

Sejak itu, ia tergugah. Ia bahkan nekat menempuh jarak puluhan kilometer dari rumahnya menuju sekretariat LSM lingkungan hanya untuk menambah pengetahuan tentang cara penanganan sampah.

"Dari situ saya juga tahu ternyata sampah juga bisa memberikan penghasilan jika diolah kembali," ujarnya.

hasil olahan lain dari sampahSejumlah kerajinan tangan hasil olahan Rini Murtini. Foto: Dok. Pribadi

Perlahan tapi pasti Rini Murtini yang sudah memiliki bekal pengetahuan tentang pengelolaan sampah menerapkannya secara mandiri. Ia bahkan menyisihkan uang dari suaminya hanya untuk membeli drum plastik bekas untuk dijadikan kotak sampah.

"Saya mulai dari rumah saya sendiri. Tiap sampah saya pilah. Sampah organik dan non organik saya pisahkan, setelah cukup saya olah menjadi pupuk organik dan berhasil. Saya senang sekali waktu itu".

Jika diawal-awal sampah yang ia olah hanya digunakan untuk kebutuhan pupuk tanaman hias rumahnya. Selanjutnya, ia justru tergerak untuk mengolah lebih banyak sampah untuk bisa dijual.

Ketika itu, tetangga Rini Murtini yang melihat kebiasaannya mengumpulkan sampah dari kotak-kotak sampah tetangganya terasa aneh, tak jarang ia bahkan dicibir dan pernah disebut sebagai pemulung. Tapi, Rini tak patah arang. Ia tetap mengolah sampah.

Semua sampah yang ia kumpulkan. Ia olah hanya dengan menambahkan air tajin (air sisa mencuci beras), dan terasi serta ragi. Fungsinya untuk mempercepat proses pembusukan dengan merekayasa pembuatan mikro organisme lokal untuk dijadikan kompos.

Hasil dari olahan sampah itu ia jual ke penampung. Saat sudah mulai merasakan hasilnya. Rini Murtini mulai tergugah untuk mengajak warga yang lainnya untuk bersama mengelola sampah. Tujuannya, agar lebih banyak warga yang peduli terhadap lingkungan sekaligus bisa memberikan penghasilan.

Meyakinkan warga untuk bersam mengelola sampah memang bukan perkara yang mudah. Banyak yang tak percaya, bahkan ada pula yang mencibirnya, khususnya ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya.

Setelah merasa tak berhasil mengajak ibu-ibu lainnya. Rini mencari cara agar perjuangannya bisa berhasil. Akhirnya ia mendapat ide, ia tak lagi mengajak ibu-ibu setempat tapi justru malah mengajak anak-anak di kawasan itu untuk bersamanya mengumpulkan sampah.

"Saya ajak anak-anak untuk mengumpulkan sampah. Tiap sampah yang mereka setor ke saya, mereka saya beri uang jajan".

rini murtiniRini Murtini

 

Lambat laun, cibiran kepada Rini berubah jadi rasa penasaran. Banyak kaum perempuan yang mulai tertarik mengikuti jejak Rini, apalagi apa yang dilakukan Rini juga memberikan penghasilan.

Perlahan, kaum perempuan setempat yang semula jijik ketika melihat tumpukan sampah, kini malah melihatnya sebagai tumpukan uang. Proses-proses pengomposan sampah yang biasanya mengeluarkan bau yang menyengat pun tak lagi diperdulikan.

Kian hari, volume sampah yang ia tampung semakin besar. Proses pengolahan yang masih dilakukan secara manual membuatnya kesusahan terlebih saat memasuki proses mencacah sampah agar siap di daur ulang.

Metode pun ia ubah. Jika sebelumnya kaum perempuan dan anak-anak disana hanya berperan mengumpulkan dan menyetorkan sampah kepadanya, kini ia mengajak tiap orang untuk mengolah sampahnya masing-masing hingga jadi pupuk kompos siap jual.

Dua tahun lamanya ia bergelut dengan sampah. Perlahan pula, ia berhasil menanamkan pemahaman kepada warga di sekitarnya tentang pentingnya pengelolaan lingkungan yang baik hingga memberikan penghasilan tambahan untuk warganya dari pengelolaan sampah.

Sampai pada akhirnya, perjuangan seorang Rini Murtini membuahkan hasil. Pada tahun 2012, ia dinobatkan sebagai pahlawan lingkungan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung, dan yang lebih membanggakan lagi, ia berhasil menyulap kampungnya yang dulu kumuh menjadi kampung hijau.

Setelah ditetapkan sebagai Kampung Hijau melalui pengelolaan Bank Sampah yang ia lakukan itu juga akhirnya ditiru oleh daerah lain hingga saat ini.

Kini, diusianya yang semakin senja Rini Murtini masih terus melakukan pengabdiannya. Ia ingin aksi ini terus dilakukan oleh anak dan cucunya dan meluas tak hanya di tingkat masyarakat sekitar tapi juga untuk seluruh masyarakat di Lampung dan di Indonesia.

“Saya ingin mewarisi masa depan yang lebih baik untuk anak cucu saya nanti. Bukan harta, tapi lingkungan yang hijau, yang layak dan sehat untuk ditempati oleh siapa saja”.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Tentang Penulis

Pernah menjadi reporter media harian dan editor disejumlah portal. Pernah juga menjadi content creative salah satu pabrik roti terkenal di Indonesia. Saat ini tengah menikmati menjadi content creator di beberapa media

Recent Articles
Sep 20, 2021, 11:53 AM - Nur Alfu Khoiriah
Sep 17, 2021, 2:10 PM - Nani Triastuti