Mengetahui Suku Dani di Pedalaman Papua

Mengetahui Suku Dani di Pedalaman Papua. -- Apa yang muncul di benak anda apabila mendengar tentang kata pedalaman? Pasti sebagian orang mengatakan penduduknya terkenal keras, budaya masih sangat kental, gaya hidup tradisional, rumah kecil-kecil dan terbuat dari alam seadanya, bahkan jarang sekali yang berpakaian rapi.

Nah, kita tidak perlu jauh-jauh menyorot dari negara lain untuk dijadikan pembahasan kali ini, cukup di negara kita sendiri Indonesia. Indonesia terkenal dengan kaya akan alam, budaya, suku, bahasa dll. Hal yang paling menarik nih sebuah suku di daerah pedalaman Papua yang bernama suku Dani atau disebut Ndani.

Orang Dani atau Ndani hidup di pedalaman Irian Jaya, yaitu di sekitar dataran tinggi pegunungan Jayawijaya bagian tengah. Pemukiman mereka berada di sekitar hulu sungai-sungai besar seperti Memberamo yang bermuara ke pantai utara Irian Jaya. Danau-danau yang terdapat di pegunungan tengah ini menjadi sumber air bagi dua cabang sungai Memberamo, yaitu sungai Idenburg yang mempunyai anak cabang bernama sungai Habiflueri.

Di hulu sungai-sungai ini terdapat desa-desa Dani seperti Bokondini dan Kelila yang dihuni oleh sekitar 15.000 jiwa. Cabang Memberamo yang kedua adalah sungai Rauffaer dengan dengan satu anak cabang yakni sungai Toli. Dan terdapat desa-desa seperti Karubaga, Mamit, Kanggime dan lain-lain dihuni oleh sekitar 40.000 jiwa. Anak cabangnya Rauffaer yang kedua adalah sungai Ilaga, di sekitarnya hidup 4.000 jiwa. Anak cabangnya yang ketiga adalah sungai Yamo atau sungai Nogolo yang terdiri dari desa Ilu, Mulia dan Sinak, di sini terdapat sekitar 25.000 jiwa penduduk.

 

Di lereng pegunungan Jayawijaya selatan terdapat Lembah Baliem yang terkenal, sungai ini bermuara ke pantai selatan. Desa-desa yang penting di sini adalah Kwayawagwi, Tiom, Pit, Makki dan Pyramid, di mana hidup sekitar 50.000 jiwa. Kediaman orang Dani berketinggian sekitar 800-3.000 meter dari permukaan laut. Desa yang letaknya tertinggi dari permukaan laut adalah Kwijawakwi.

Bahasa

Bahasa Dani tergolong Non-Austronesia, mungkin lebih dekat kepada rumpun bahasa Malanesia dan Pasifik Barat umumnya. Bahasa Dani termasuk kelompok bahasa pegunungan bagian barat. Juga terbagi dalam dua dialek, yaitu:

  1. Dialek Dani Barat yang lebih dikenal sebagai bahasa Laany atau Lani, dengan penuturnya sekitar 134.000 jiwa.
  2. Dialek Dani Lembah Besar atau Dani Baliem, dengan penuturnya sekitar 50.000 jiwa.

Peralatan

Peralatan hidup orang Dani sampai sekarang masih menggunakan kayu, batu,  serat tumbuh-tumbuhan, bambu, tulang-tulang, dan taring hewan. Yang mereka gunakan sebagai:

  1. Alat pemotongan mereka masih mengandalkan kapak-batu
  2. Sebagian mereka gunakan sebagai alat tukar untuk memperoleh barang-barang dari suku-suku bangsa dari dataran rendah.
  3. Alat keperluan perladangan, mereka menggunakan sekop dari kayu. Digunakan unyuk menyiduk lumpur ketika membentuk saluran air supaya ladangnya tetap kering. Untuk menanam benih ubi mereka tongkat kayu pelobang. Untuk kemudahan memasak dengan batu panas mereka menggunakan jepitan kayu.

Barang-barang kecil mereka bawa dengan keranjang yang dianyam seperti jala. Kalau bepergian mereka selalu membawa perlengkapan pembuat api. Senjata utama mereka adalah busur dan anak panah serta tombak dari kayu. Selain untuk berperang senjata ini digunakan untuk berburu babi hutan, burung, kus-kus dll.

Pakaian

Pakaian asli orang Dani amat minim. Laki-laki cukup memakai koteka (alat yang digunakan sebagai penutup penisnya yang terbuat dari kulit labu air yang sudah kering), wanitanya hanya memakai rok dari untaian serat rumput. Saat bekerja mereka memakai yang pendek, dan dalam kesempatan yang resmi mereka memakai koteka yang panjang. Untuk hiasan ada koteka yang dibentuk melingkar-lingkar, dan diukir dengan motif tertentu.

Rumah

 Rumah orang Dani ada dua macam, yaitu:

  1. Rumah untuk orang laki-aki dewasa dan anak laki-laki remaja.
  2. Rumah keluarga, khususnya untuk kepentingan kaum wanita, ibu, gadis dan anak-anak kecil.

Kontruksinya melingkar dalam dimeter sekitar 4-5 meter, ditutup dengan atap kerucut dari rumput-rumput kering. Dinding rumah terbuat dari lembaran kayu atau kulit kayu. Semua sambungan diikat dengan tali atau rotan. Lantai tanah dalam rumah digali beberapa inci selalu ditutupi dengan rumput kering tebal-tebal. Tungku api terletak di tengah-tengah lantai. Rumah untuk kaum laki-laki biasanya sedikit lebih besar dari pada rumah keluarga.  Di sekeliling rumah dibuat pagar dari kayu supaya babi peliharaan tudak lari keluar. Kandang babi itu mereka buat seperti pondok dengan atap dari rumput kering.

Alat Musik

Alat musik satu-satunya yang digunakan dan dikembangkan oleh orang Dani adalah geng-gong yang terbuat dari bambu. Itupun hanya dimainkan sendiri-sendiri oleh orang laki-laki dewasa dan remaja. 

Sistem Pertanian

Sistem pertanian orang Dani tergolong sebagai perladangan berpindah. Mereka menebangi pohon-pohon dari bagian hutan yang dipilih sebagai lokasi ladang, kemudian dibakar sampai menjadi abu. Sesudah ladang dianggap dingin maka kaum wanitanya mulai membuat lubang di tanah dengan tongkat kayu dan menanam ubi jalar manisnya. Ladang seperti ini dalam beberapa tahun akan kehilangan kesuburannya, sehingga terpaksa membuka ladang baru, yang lama ditinggalkan untuk kembali menjadi hutan.

Diperkirakan ada 43 macam ubi jalar yang ditanam oleh orang Dani. Selain itu mereka menanam keladi, ketimun, labu-labuan, tebu, kacang-kacangan, jagung dan tembakau. Sekarang sudah diperkenalkan pula cara bertanam padi. Orang Dani memperoleh garam dari beberapa sumber air garam di pegunungan. Garam itu mereka buat dengan cara yang amat sederhana.

Sistem Pekawinan

Setiap komunitas kampung Dani terbagi ke dalam dua paroh masyarakat (moieti), yang pertama disebut wida (wyda, wodo, wonda) yang kedua disebut waiya (waya, weya). Perkawinan biasanya terjadi antara paroh masyarakat tersebut. Masing-masing paro terdiri atas beberapa klen patrilineal (anibenu). Oleh karena itu sistem perkwinan mereka bersifat eksogami patrilokal, dan lebih diutamakan eksogami klen dan paroh masyarakat. Pemuda Dani lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan sosialnya dengan sadara laki-laki ayahnya. Setiap klen biasanya tinggal berkelompok dalam lingkungan pedukuhan (bagian dari kampung) yang dittandai sebuah rumah bujang dan beberapa rumah keluarga.

Politik/Kepemimpinan

kehidupan politis komuniti Dani biasanya dipengaruhi oleh dua anibenu (klen) yang dominan dari setiap paroh masyarakatnya. Mereka akan mengadakan semacam konfederasi antar paroh dan kampung, terutama dalam menghadapi ancaman peperangan dengan kelompok-kelompok konfederasi lain.

Kepemimpinan kelompok Dani barat misalnya terbagi atas tiga tingkatan. Pertama adalah pemimpin pedukuhan yang disebut nagawan, juga sebagai pemimpin anibenu. Kedua adalah pemimpin subkonfederasi yang disebut ap nggowok (orang besar). Yang ketiga adalah pemimpin konfederai yang disebut ap endage mbogot (orang yang digelari langit).

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel terkait
Tentang Penulis

lahir di Tuban, 11 April 1995. telah menyelesaikan pendidikan S1 di UIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sejarah Peradaban Islam pada tahun 2017. telah menjelajahi berbagai profesi seperti bisnis, guru dan penulis.

Recent Articles