Tari Saman dan Ratoh Jaroe: Serupa Namun Tak Sama, Apa Perbedaannya?

Tari Saman dan Ratoh Jaroe: Serupa Namun Tak Sama, Apa Perbedaannya? -- Siapa yang tidak terpukau ketika melihat tari Saman. Tua, muda, besar, kecil, penduduk lokal, ataupun asing rasa-rasanya selalu dibuat terkesima dengan seni dari ujung barat Indonesia ini. Jikalau biasanya tarian dibawakan sambil berdiri bergerak mengikuti musik, lain halnya dengan tari Saman. Suara nyanyian para penari serta tepuk tangan mereka justru menjadi irama tersendiri yang menggugah hati siapa saja yang menyaksikan. Meski tarian ini sangat khas dan mudah dikenali, tapi siapa sangka masih banyak sekali hal-hal yang kita salahpahami dari tarian ini. Mau tahu apa saja? Berikut ulasannya.

Sekilas Sejarah Tari Saman

Tari Saman

instagram.com/ irani_john_kapoor

Adalah Pok Ane, sebuah permainan rakyat yang menjadi cikal bakal tari Saman. Diciptakan oleh seorang ulama bernama Syekh Saman asal negeri seribu bukit, Kabupaten Gayo Lues, bagian tengah Provinsi Aceh, pada sekitar abad ke XIV Masehi. Tujuannya adalah sebagai media dakwah penyebaran agama Islam dimana pada setiap syairnya mengandung ajaran-ajaran tentang kemanusiaan, alam, budaya, adat suku Gayo, serta pesan-pesan beribadah.

Dari hanya permainan, Pok Ane bertransformasi menjadi sebuah tarian khas yang dijuluki dengan nama penemunya: tari Saman. Tari ini dimodifikasi lagi sehingga jadi sedemikian indah dan menggugah. Kunci utamanya adalah gerak serta irama tepukan yang seragam dan berpola. Tarian semakin lama semakin menarik karena gerakannya semakin cepat namun keharmonisan tetap terjaga. Personil tari ini adalah belasan atau puluhan laki-laki dengan jumlah yang harus ganjil, serta satu orang penangkat atau syeh yang berada di tengah penari sebagai kunci pengatur agar tarian tetap seragam layaknya digerakkan oleh satu tubuh.

Tak ada musik, tari ini mengandalkan ritme dari baris demi baris syair berbahasa Gayo yang dinyanyikan oleh para penari. Awalnya tarian ini hanya ditampilkan di acara-acara adat atau momen khusus seperti Maulid Nabi Muhammad. Namun seiring dengan bertambahnya popularitas, tari ini disajikan kapan saja dan dimana saja tanpa terikat dengan waktu dan upacara tertentu.

Tari Saman

instagram.com/natgeoindonesia

Perbedaan Ratoh Jaroe dan Saman

Ratoh memiliki arti ‘berzikir’, sedangkan Jaroe adalah ‘tangan’. Dengan kata lain, Ratoh Jaroe mempunyai makna berzikir dengan gerakan tangan. Seperti namanya, tarian ini membawa pesan yang berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan. Memiliki gerakan serupa, tak heran kalau Ratoh Jaroe kerap dikira tari saman, padahal perbedaan antara keduanya cukup banyak dan signifikan.

Tari Saman Hanya Dilakukan oleh Pria, Bukan Wanita

Salah satu perbedaan yang paling menonjol adalah personil tarinya. Tari Saman hanya dilakukan oleh lelaki, sedangkan Ratoh Jaroe dimainkan oleh perempuan. Di Gayo Lues, tempat ditemukannya tari Saman, perempuan justru dilarang melakukan tari Saman. Karena tujuan utamanya untuk dakwah, maka nilai-nilai agama dijunjung tinggi. Gerakan tari Saman yang cendrung energik hingga memukul-mukul dada dengan keras dianggap tak cocok dilakukan perempuan.

Ratoh Jaroe

instagram.com/lintangkostum

Jumlah Personil

Seperti disebutkan sebelumnya, jumlah personil tari Saman adalah ganjil dengan satu syeh yang berada di tengah-tengah penari. Sedangkan Ratoh Jaroe memiliki penari dengan jumlah genap serta syeh yang berada di luar formasi tari, biasanya di sudut kanan atau kiri penari.

Musik dan Syair

Tari Saman mengandalkan irama tepukan dan nyanyian para penari, sedangkan Ratoh Jaroe menggunakan iringan tabuhan musik rapai, yakni musik tradisional Aceh. Berbeda dengan tari Saman yang syairnya menggunakan bahasa tradisional Gayo, Ratoh Jaroe menggunakan bahasa Aceh.

Latar Belakang

Ratoh Jaroe sendiri merupakan tarian modifikasi yang dipopulerkan oleh salah seorang seniman Aceh yang berkarier di Jakarta. Tarian ini merupakan gabungan dari tarian tradisional khas Aceh lainnya seperti: tarian Ratep Meuseukat, Likok Pulo, Rapai Geleng, Ratoh Duk, Ratoh Dong, dan lainnya.

Ratoh Jaroe

instagram.com/waliyyulamri

Meskipun perbedaannya cukup menonjol, namun kedua tarian ini memiliki tujuan dan pesan yang serupa. Syair-syairnya memiliki magis karena berkenaan dengan ketuhanan dan kemanusiaan. Memperlihatkan estetika dalam Islam dimana seni bisa menjadi medium untuk senantiasa mengagungkan Allah. Tarian ini juga mengingatkan kita pada semangat persatuan, solidaritas, dan saling mendukung. Meskipun kita memiliki banyak perbedaan, namun tujuan kita tetap satu kebaikan bagi bangsa dan negara Indonesia.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel terkait
Tentang Penulis